Saturday, 28 July 2012

Masa Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq Tahun 11 sampai 13 Hijriah. Tahun 632 sampai 634 Masehi.

A. Latarbelakang Kepmimpinan Abu Bakar

Sepeninggal Nabi Muhammad Saw. Sahabat Muhajirin dan Anshar berkumpul di Saqifah Bani Saadah untuk membicarakan tampuk pimpinan, sebagai pengganti beliau. Abu Bakar yang memimpin rapat waktu itu berkata:’’Kami dari keturunan Quraisy, maka pimpinan juga dari golongan kami.”[1] Saat perdebatan antara dua kubu tersebut memuncak, Abu Bakar melanjutkan perkataannya: “Orang Arab tidak bakal mampu menyelesaikan persoalan tanpa orang Quraisy. Rasulullah pernah bersabda:setelah aku, persoalan (kepemimpinan) ini ada di tangan orang-orang Quraisy”[2] Kemudian ia berkata seorang sahabat dari Anshar, Basyir bin Saad, “Apakah kamu pernah mendengar rasul bersabda bahwa para pemimpin adalah dari orang Quraisy?” Basyir menjawab: “Demi Allah, ya”.[3]

Menurut al-Baladziri, ketika Rasulullah wafat, Umar bin Khattab mendatangi Abu Ubaidah bin Jarrah: “ Aku membaiatmu”, kata Umar.[4] Seperti diketahui bahwa umar bin Khattab adalah seorang tokoh Quraisy, beguitu juga Abu Ubaidah bin Jarrah.
Tatkala pembaitan jatuh di tangan Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib merasa tidak puas. Abu Ubaidah menemuinya, lalu berkata: “Hai putra pamanku, engkau masih muda, sedangkan mereka adalah sesepuh kaummu (sesepuh Quraisy), pengetahuan dan penga lamanmu belum cukup jika dibandingkan dengan mereka. Dalam hal ini Abu Bakar lebih unggul dan cakap dari kamu. Terimalah dia Sesungguhnya jika engkau diberi umur panjang, kelak engkau akan mendudukinya”.[5]

B. Kondisi Masyarakat Sepeninggal Muhammad SAW.

Meninggalnya Rasulullah pada usia 63 tahun, meninggalkan kesan dan pengaruh yang kuat kepada kaum muslimin. Meskipun mereka baru saja menerima fatwa-fatwa bahwa seorang nabi tidak dapat hidup selama-lamanya dan rasul akan menemui Tuhan, para sahabat sebagai pahlawapahlawan yang ulung dan pemberani, juga sempat panik. Banyak diantara mereka yang tidak mempercayai berita wafatnya Rasul yang dating dengan tiba-tiba.[6] Setelah Abu Bakar mendengar kabar tersebut, ia segera menemui orang-orang yang sedang berkerumun untuk menenangkan dan menghilangkan kebingungan mereka. Abu Bakar berpidato: “Wahai manusia, barang siapa yang memuja Muhammad , Muhammad telah mati,tetapi siapa yang memuja Tuhan, tuhan hidup selama-lamanya, tiada mati-matinya”[7] Kemudian ia membaca ayat yang memperkuat apa yang diucapkannya.[8]
Dengan wafatnya Rasul, maka umat islam dihadapkan dengan masalah sangat Kritis. Sebagaian dari mereka bahkan ada yang menolak iIslam.[9] Ada golongan yang murtad, ada yang mengaku dirinya sebagai nabi, golongan tidak mau membayar zakat. yang masih tetap patuh kepada agama Islam adalah penduduk Makkah, Madinah dan Thaif. Mereka tetap memenuhi kewajiban dan mau mengorbankan apa yang mereka miliki untuk mengembalikan kejayaan Islam.[10]

C. Sistem Pemilihan Kholifah

Abu Bakar memangku jabatan khalifah berdasarkan pilihan yang berlangsung sangat demokratis di Muktamar Tsaqifah Bani Sa’idah, memenuhi tata cara perundingan yang dikenal dunia modern saat ini.[11] Kaum Anshar menekankan pada persyaratan jasa, mereka mengajukan calon Sa’ad ibn Ubada. Kaum Muhajirin menekankan pada persyaratan kesetiaan, mereka mengajukan calon Abu Ubadah ibn Jarrah. Sementara itu dari Ahlul Bait menginginkan agar Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah atas dasar kedudukannya dalam Islam, juga sebagai menantu dan karib Nabi. Hampir saja perpecahan terjadi bahkan adu fisik. Melalui perdebatan dengan beradu argumentasi, akhirnya Abu Bakar disetujui oleh jamaah kaum muslimin untuk menduduki jabatan khalifah.[12]

 

D. Kebijakan-kebijakan Pemerintah

Maju mundurnya suatu pemerintahan akan sangat bergantung kepada pemegang kekuasaan. Sehubungan dalam periode Khulafa’ al-Rasyidin Abu Bakar adalah khalifah(pemimpin Negara) yang pertama. Maka kualitas seorang khalifah memberi contoh tersendiri dalam menentukan kebijakan-kebijakan di berbagai bidang yang berhubungan dengan hajat hidup masyarakst yang dipimpinnya. Demikian pula dalam mengatasi berbagai krisis dan gejolak yang muncul dalam pemerintahannya.[13]

1. Memerangi Kaum Riddah

Sebaagai khalifah pertama, Abu Bakar dihadap pada keadaan masyarakat seninggal Muhammad saw. Ia bermusawarah dengan para sahabat untuk menentukan tindakan yang harus diambil dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Meski terjadi perbedaan pendapat tenteng tindakan yang akan dilakukan dalam kesulitan yang memuncak tersebut,kelihatan kebesaran jiwa dan ketabahan hatinya.seraya bersumpah dengan tegas ia menyatakan akan memerangi semua golongan yang menyimpang dari kebenaran,sehingga semuanya kembali kejalan yang benar atau harus gugur sebagai syahid dalam membela agama Allah. Ketegasan Abu Bakar ini disambut oleh segenap kaum muslimin.
Untuk memerangi kemurtadan ini dibentuklah sebelas pasukan. Sebelum pasukan dikirim ke daerah yang ditinjau, terlebih dahuludikirim surat yang menyeru kepada mereka agar kembali kepada ajaran Islam, namun tidak mendapat sambutan. Terpaksa pasukan dikirimkan dan membawa hasil yang gemilang.[14] Kebijakan tersebut dilakukan dengan tujuan terciptanya persatuan umat, penegakan hokum dan keadilan. Hal lain yang dilakukan Abu Bakar adalah mengangkat Ali sebagai deputinya untuk mengurusi masalah kesekretariatan Negara di samping Umar dsan Abu Ubadah ibn Jarrah. Dalam masalah keadilan, ia berjanji akan melindungi si lemahdari pemerkosaan si kuat tanpa pandang bulu.

2. Penataan Birokrasi Pemerintahan

Dalam masalah penataan birokrasi pemerintahan khalifah Abu Bakar masih meneruskan system pemerintahan yang bersifat sentral, yakni sepertihalnya pemerintaha n yang berjalan dimasa Rasululla ,yaitu kekuasaan eksekutif, legeslatif, yudikataf terpusat disatu tangan.[15]

 

3. Pembukuan Al-Qur’an

Penulisan ayat-ayat al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Rasulullah, bahkan sejak masa awal diturukannya al-Qur’an yang diwahyukan ssecara berangsur-angsur selama 23tahun. Setiap kali menerima wahyu rasulullah selalu membacakan dan mengajarkannya kepada sahabat serta memerintahkan mereka untuk menghafalkannya. Rasul juga memerintahkan kepada sahabat yang pandai menulis agar menuliskannya di pelepah-pelepah kurma, lempengan-lempengan batu dan kepingan-kepingan tulang.[16] Pada masa Rasulullah, tulisan-tulisan itu belum dikumpulkan dalam satu mushaf,[17] tetapi masih berserakan.
Setelah Rasulullah wafat dan Abu Bakar menjadi khalifah, terjadi perang Yamamah yang merenggut korban kurang lebih 70 sahabat penghafal al-Qur’an. Banyaknya sahabat yang gugur dalam peristiwa tersebut,timbul khekhawatiran di kalangan sahabat khususnya Umar ibn Khatab,akan menyebabkan hilangnya al-Qur’an. Umar menyarankan kepeda Abu baker agar menghimpun surah-surah dan ayat-ayat yang masih berserakan kedalam satu mushaf. Awalnya Abu Bakar keberatan karena hal seperti itu tidak dilakukan oleh rasul. Umar menyakinkan kepada Abu Bakar bahwa hal itu semata-mata untuk melestarikan al-Qur’an,akhirnya Abu baker menyetujuinya. Zaid ibn Tsabit menerima tugas untuk memimpin pengumpulan itu, dengan berpegang padatulisan yang tersimpan da rumah Rasul saw,hafalan-hafalan dari sahabat dan naskah-naskah yang ditulis oleh para sahabatuntuk dirinya sendiri. Zaid menjadi salah seorang penulis ayat-ayat al Qur’an Dngan ketekunan dan kesabaran Zaid berhasil menuliskan satu naskah al-Qur’an diatas adim(kulit yang disamak}.[18] Setelah selesai, mushaf tersebut diserahkan kepada Abu Bakar dan disimpannya sampai wafat. Ketika Umar menjadi khalifah, mushaf itu berada dalam pengawasannya. Sepeninggal Umar, mushaf tersebut disimpan di rumah Hafsh binti Umar, istri Rasul saw.

 

E.  Perluasan Wilayah
Setelah dalam negeri stabil, Abu Bakar meneruskan rencana Rasulullah yang belum terlaksana yaitu mengadakan peperangan dengan Persia dan Byzantium karena kasus Bendhi. Semenanjung Arab kini disatukan dibawah kekuasaan Abu Bakar melalui pedang Khalid ibnu al-Walid. semangat perang berbagai suku, yang kini telah dipersatukan ke dalam sebuah persaudaraan, harus menemukan sarana untuk menegaskan dirinya.[18]
Hal ini bisa dilihat bagaimana usaha yang dilakukan oleh khalifah Abu Bakar dalam memperluas wilayah kekuasaan Islam pada masanya, diantaranya dengan penaklukan Irak dan Persia, dan juga penaklukan Syiria (Suriah)
  1. 1.      Penaklukan Irak dan Persia
Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar ra. mengirim kekuatan ke luar Arabia. Semula beberapa kelompok suku kecil bertempur untuk mendapatkan harta rampasan, tetapi penyerbuan Arab memaksa Byzantium untuk mengirimkan ekspedisi utama ke palestina Selatan. Beberapa kelompok penyerbu harus memusatkan kekuatan timurnya di Ghaza, dan disini di bawah Khalid ibn Walid dibantu oleh Al-Mutsannah ibn Haritsah ra. yang dikirim oleh Abu Bakar ke Iraq untuk menjadi komandan bagi klan Arab, mereka mengalahkan pasukan Byzantium dalam peperangan Ajnadyn (634 M) dan mereka mampu memenangkan peperangan dan membuka Hirah serta beberapa kota di Irak. Di antaranya adalah Anbar, Daumatul Jandal, Faradh, dan yang lainnya.[19]
Dan Akhirnya dapat menguasai sepenuhnya wilayah al-Hirah di tahun 634 M.[20] Setelah itu khalifah Abu Bakar memerintahkan kepada Khalid bin Walid untuk bergabung dengan pasukan Islam yang ada di Syam.
Ketika Khalid melakukan manuver ke arah barat dari Hirah pada tahun 634 M, ia meninggalkan kekuasaan atas Irak pada sekutunya dari suku badui, al-Mutsannah ibn Haritsah, kepala suku Banu Syaiban. Karena ia menerima perintah dari Khalifah Abu Bakar untuk membantu memperkuat pasukan di Syam. Sementara itu orang-orang Persia sedang bersiap-siap untuk melancarkan serangan balasan dan hampir menghancurkan pasukan Arab dalam pertempuran di jembatan[21] dekat Hirah, pada 26 November 634. Tanpa rasa takut, al-Mutsannah membangun serangan baru, dan pada bulan Oktober atau November tahun berikutnya berhasil mengalahkan pasukan jenderal Persia, Mihran, di al- Buwayb di tepi sungai efrat. Tetapi al-Mutsanna tidak lebih dari seorang kepala suku, yang tidak punya hubungan kekuasaan dengan Madinah atau Mekkah, dan baru masuk Islam setelah Nabi wafat. Karena itu ketika khalifah Abu Bakar telah tiada dan digantikan oleh Khalifah Umar, beliau mengutus Sa’ad ibn Abi Waqqash, seorang sahabat yang dijanjikan masuk surga oleh Nabi Muhammad, sebagai komando pasukan dan mengirimkannya ke Irak. Di bawah komando Sa’ad ibn Abi Waqqash inilah peperangan yang di lakukan Umat Islam mengalami kemenangan dan berhasil menaklukan wilayah Irak dan Persia sepenuhnya pada tahun 652 M[22].
Dengan demikian wilayah Irak dan Persia telah berhasil dikuasai pasukan Arab dibawah komando Khalid ibn al-Walid dan dilanjutkan oleh Sa’ad ibn Abi Waqqash pada masa kekhalifahan Umar ibn Khaththab.


  1. 2.      Penaklukan Islam di Syria
Penaklukan ini terjadi pada paruh pertama abad ke-7, dimana wilayah ini sudah dikenal sebelumnya dengan nama lain seperti Bilad al-Sham, Levant, atau Suriah Raya. Sebenarnya pasukan Islam sudah berada di perbatasan selatan beberapa tahun sebelum Nabi Muhammad SAW meninggal dunia tahun 632 M, seperti terjadinya pertempuran Mu’tah di tahun 629 M, akan tetapi penaklukan sesungguhnya baru dimulai pada tahun 634 M dibawah perintah Kalifah Abu Bakar and Umar bin Khattab, dengan Khalid bin Walid sebagai panglima utamanya.
Suriah dibawah pemerintahan Romawi timur selama 7 abad sebelum Islam datang, juga pernah di invasi beberapa kali oleh Kekaisaran Sassania Persia yaitu pada abad ke-3, 6 dan 7; Suriah juga menjadi target serangan sekutu Sassania, Lakhmid. Wilayah ini disebut Provinsi Iudaea oleh Bizantium. Selama perang Romawi-Persia terakhir, yang dimulai pada tahun 603, pasukan Persia dibawah pimpinan Khisra II berhasil menduduki Suriah, Palestina and Mesir selama lebih dari satu dekade sebelum akhirnya berhasil dipukul mundur oleh Heraclius dan dipaksa berdamai dan mundur dari wilayah yang mereka kuasai itu pada tahun 628 M. Jadi, pada saat Islam berperang melawan Romawi ini sebenarnya mereka sedang menata kembali wilayahnya yang sempat hilang selama kurang lebih 20 tahun tersebut.[23]
Ekspansi pun dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar dalam penaklukan  wilayah Syiria dengan mengirimkan ekspedisi pasukan yang dipimpin empat orang jendral dikirim ke Syam (Syria) yang menjadi jajahan Romawi (Byzantium) yaitu Abu Ubaidillah ibn Jarrah (pimpinan tertinggi empat pasukan) ke Hims, Yazid ibn Abi Sufyan ke Damaskus, Amr ibn Ash ke Palestina dan Syurahbil ibn Hasanah ke lembah Yordania. Sebelumnya pasukan dipimpin oleh Usamah ibn Zaid ra. yang masih berusia 18 tahun Melihat pasukan yang menang hanya Amr ibn Ash di perbatasan Palestina, Abu Bakar menyatukan pasukan menghadapi laskar Romawi di Yamuk. Jendral Khalid ibn al-Walid pun di perintahkan meninggalkan Irak untuk memperkuat memperkuat pasukan di Syam, melalui gurun pasir yang jarang dijalani, ia sampai ke Syria. Khalid baru sampai di Syam setelah melakukan perjalanan panjang selama 18 hari. Maka, bergabunglah kaum muslimin hingga mencapai 26.000 personel. Dia kemudian mengatur pasukannya dan membaginya dalam beberapa divisi.
Pertempuran ini terjadi di sebuah pinggiran sungaiYordania yang disebut Yarmuk. Maka, berkecamuklah perang dengan sangat sengitnya. Beliau memimpin pasukan berkekuatan 26.000 personil menghadapi tentara Romawi berkekuatan lebih dari 100.000 dibawah panglima Theodore, saudara Heraklius, di pertempuran itu, tentara islam memperoleh kemenangan, mencoreng muka dan memalukan Heraklius sehingga beliau meninggalkan Hims, melarikan diri ke Anthakiah, saat Khalid ibn al-Walid dan pasukannya memenangkan perang di Ajnadain.[24] Pada saat perang sedang berkecamuk dengan sengitnya, datang kabar bahwa Khalifah Abu Bakar meninggal dunia dan Umar menjadi penggantinya. Khalid di turunkan dari posisinya sebagai panglima dan segera diganti oleh Abu Ubaidah Ibnu-Jarrah. Peristiwa ini terjadi pada bulan Jumadil Akhir tahun 13 H/634 M.
Satu hal yang perlu dicatat dari peristiwa di atas yang mengundang decak kagum dan rasa kebanggaan adalah sikap Khalid bin Walid. Tatkala dia dinyatakan diturunkan dari posisinya sebagai panglima perang, dia menerimanya dengan lapang dada dan penuh rela. Padahal, saat itu dia sedang berada di puncak kemenangan yang sangat gemilan. Lebih hebatnya lagi dia terus berperang dengan serius dan ikhlas di bawah pimpinan panglima baru. Hal serupa juga pernah dilakukan oleh Abu Ubaidah tatkala dia menerima dengan lapang dada tatkala dia diturunkan dari posisinya sebagai panglima perang oleh Abu Bakar dan digantikan oleh Khalid bin Walid.
Ini merupakan sebuah peristiwa dalam sejarah Islam yang sangat indah dan akan sangat senantiasa dikenang sepanjang zaman.
Sedikitnya penaklukan di masa Khalifah Abu Bakar kami lihat terjadi karena adanya beberapa sebab berikut ini : [25]
  1. Pendeknya masa pemerintahan Abu Bakar yang hanya berusia 2 tahun 3 bulan.
  2. Karena dia disibukan dengan perang orang-orang murtad yang meliputi seluruh Jazirah Arab.
  3. Walau demikian, peperangan-peperangan yang terjadi di masa pemerintahannya dalam melawan orang-orang Romawi dan Persia telah berhasil menakutkan musuh-musuh Islam dan sekaligus mampu menunjukan kekuatan kaum muslimin.
Operasi-operasi militer yang kemudian dilakukan oleh Khalid ibn Walid dan Amr ibn Ash di Irak, Syiria dan Mesir, termasuk yang paling gemilang dalam sejarah ilmu perang dan tidak kalah jika disbanding Napoleon, Hannibal atau Iskandar Zulkarnaen.
Di antara sebab-sebab yang membuat ekspansi Islam berhasil dengan cepat adalah;[26]
  1. Ajaran-ajaran Islam mencakup kehidupan di dunia dan akhirat dengan kata lain Islam adalah agama dan Negara.
  2. Keyakinan yang mendalam di hati para sahabat tentang kewajiban menyampaikan ajaran-ajaran Islam ke seluruh daerah.
  3. Kekaisaran Persia dan Byzantium dalam keadaan lemah.
  4. Islam tidak memaksa rakyat di wilayah perluasan untuk mengubah agamanya.
  5. Rakyat tidak senang (tertindas) oleh penguasa Persia dan Byzantium Timur.
  6. Rakyat di wilayah tersebut memandang bangsa Arab lebih dekat kepada mereka daripada Byzantium.
  7. Wilayah perluasan adalah wilayah yang paling subur.

 
























No comments:

Post a Comment